Pagi ini berkunjung ke Polres Kabupaten Bekasi untuk urus SKCK, tak dinyana gue menemukan sebuah mahakarya di sana, perahu karet besar berwarna kelabu bertenaga mesin, untuk rescue. Sempat tercengang lima detik sebelum akhirnya melanjutkan langkah dan ngetwit tentang peristiwa ini, hahaha berlebihan. Tapi emang selalu terkesima kalo lihat perahu karet yang bagus, bikin teringat satu perahu super cantik yang berbaring sempurna di lantai dua Posko 666, rumah Kelompok Pencinta Alam (KPA) STAPALA di Kampus STAN. Perahu super cantik yang akan jadi inti bahasan di tulisan ini.
Namanya Semar, nama yang dicetuskan oleh anak-anak arung jeram 2010 setelah berbulan-bulan lamanya perahu ini hadir di rumah kami tanpa nama. Nama Semar diambil dari merk perahu ini, Base Marine. Perahu yang awalnya cuma angan-angan sebagian kecil anak-anak arung jeram generasi G112 (rumah lama kami yang telah direlokasi), yang mendambakan perahu baik dan sehat untuk turun ke sungai.
Sebelumnya STAPALA punya dua perahu yang teronggok begitu saja di lantai dua Posko G112, yang sudah hampir tak layak pakai karena bertahun-tahun ditambal sulam dengan ngerekat sambungan dan overhaul (perbaikan besar dengan mengganti kulit luar perahu dengan kulit dalamnya). Koneng dan Badak adalah nama dua perahu kami terdahulu, perahu lokal yang bahkan udah ga kuat lagi menerjang jeram-jeram kecil di Sungai Cisadane Bawah.
Sewaktu gue masih jadi anggota baru di STAPALA, tiap latihan arung jeram kami selalu pinjem Sisi, perahu Base Marine punya KPA Makopala UBL. Koneng ga pernah lagi dipake dan Badak harus dipompa sebelum dan setelah lintasin jeram. Sampe akhirnya nyusul Koneng, istirahat dengan tenang di peraduan terakhir. Divisi Olahraga Arus Deras (ORAD) pun mati suri tanpa perahu. Dua tiga kesempatan di awal kami masih sigap turun sungai dengan pinjem perahu KPA lain atau sewa dari provider, tapi selanjutnya kami makin males, karena dana keserap habis cuma buat sewa perahu. Akhirnya kegiatan anak-anak arung jeram ga ada sama sekali.
Beberapa anak-anak arung jeram yang baru masuk dan masih butuh ilmu serta pelampiasan adrenaline di sungai akhirnya berniat beli perahu baru. Saat itu dipertimbangkan untuk beli perahu lokal yang butuh sekitar belasan juta dan modal awal dengan jual Komeng dan Badak seharga 5 juta boleh kurang. Sempet berlinangan air mata dan frustasi waktu nge-floor-in ide ini, karena malah kena semprot dari banyak senior. Ga sedikit yang mencemooh soal maintenance perahu selama ini, protes soal selalu mintain duit senior, dan paling dalem adalah yang bilang ide gue jual perahu kayak jual barang hasil maling aja, karena berapa duitpun mau gue terima. Hahaha.
Tapi setidaknya saat itu kami jalan terus, dibantu beberapa senior lain yang support penuh, terutama si Komeng, senior yang mengaku STAPALA garis keras dari Aceh yang saban hari telpon buat kasih petunjuk, saran, pertanyaan, dan omelan. Kendala di awal adalah ngejual Koneng dan Badak. Kami udah keliling nawarin ke KPA-KPA lain ga ada yang mau bahkan sampe ke provider arung jeram dan bengkel alat-alat ORAD pun ga ada yang mau terima. Sampe ada tawaran dari teh Gadis dan Aseng, pasangan penggiat arung jeram STAPALA, untuk beli dua perahu itu seharga 3 juta. Usul ini, walau sempet bikin gue membumbung ke angkasa, harus diurungkan, karena senior-senior ga setuju, lupa gue alasannya apa pokoknya prinsipal. Hahaha.
Secercah titik terang datang dari pabrik perahu dan alat ORAD di Balaraja, Tangerang, di mana setelah tiga kali bolak-balik nempuh tiga jam perjalanan, kami bisa sepakat tukar dua perahu butut kami dengan satu perahu baru dan nambah uang 10 juta. Kang asep, si empunya pabrik dan provider Baduy Adventure, adalah orang Sunda Asli yang udah makan asam garam dunia per-rafting-an, cukup luluh setelah dirayu oleh Komeng yang kelahiran Cimahi. Sejak saat itu, pola pikir pun berubah, entah bagaimana caranya harus dapat 10 juta untuk perahu baru dari Kang Asep.
Lalu waktu bergulir cepat, di tengah kesibukan STAPALA ngurus pindahan posko dan pembentukan BPH (Badan Pengurus Harian) baru yang diketuai oleh Mas Ade 666, segelintir orang secara kasat mata pun berjibaku cari dana buat perahu. Ada Jupret yang disupervisi langsung oleh Komeng untuk jualan kaos bertema arung jeram ke senior-senior, Coti yang bantu gue setting fun rafting buat Mas Jono dkk di Cicatih, Denis yang setia nyatet tiap duit yang keluar masuk, dan Edhel yang selalu ngasih arahan untuk langkah-langkah selanjutnya. Frustasi nya dapet lah saat itu saking banyaknya kerjaan dan tuntutan Komeng atas kinerja yang harus sempurna.
Selain itu, semua senior ORAD dapet kiriman surat tagihan, yaitu surat yang mengharapkan bantuan dana dengan kontraprestasi sebuah kaos ciamik. Maka, berbondong-bondong transferan dana pun mengalir ke rekening kami. Dan bukan hanya dari senior ORAD, tapi hampir semua senior STAPALA ikut serta. Banyak senior ga segan menggelontorkan dana jutaan rupiah untuk kerjaan ini.
Tiga bulan berjalan, dana yang kami dapat pun dua kali lipat lebih banyak dari perencanaan. Maka muncul opsi lainnya, yaitu untuk beli perahu import yang harganya mencapai tiga puluh juta, atau membeli dua perahu lokal dari Kang Asep. Namun untuk beli dua perahu lokal uang belum cukup, sehingga perahu yang bisa dibeli hanyalah rafting boat dan kayak lokal seharga lima juta. Akhirnya diputuskan untuk beli perahu import, atas pertimbangan mutu perahu yang lebih baik dan diharapkan lebih tahan lama dan belum dibutuhkannya perahu jenis kayak di STAPALA. Uang penjualan Koneng dan Badak di Kang Asep pun kami tambah beberapa ratus ribu untuk dapet tujuh set alat arung jeram lengkap ditambah rescue rope.
Januari 2010, setelah sebulan lamanya proses pencarian supplier dan negosiasi harga, akhirnya perahu baru STAPALA pun terbeli. Kobo yang negosiasi harga sama si Kokoh pemilik toko Karya Tekhnik di MGK Kemayoran deal di harga dua puluh tiga juta. Perahu Base Marine asli Korea, berwarna merah dengan tali putih dan strip hitam, kapasitas tujuh orang, punya tiga tabung. Cantik benar-benar cantik, yang belum apa-apa udah didudukin si Yeyek yang anter gue dengan taksi waktu beli perahu. Hahaha. Ohia, perkara si Yeyek negdudukin perahu ini juga jadi obrolan panas para senior, manteb kan STAPALA, never ending komentar sengit emang. Hahaha.
Begitu si perahu cantik ini dibawa ke posko, pria-pria STAPALA yang dimandorin Kadal 789 pun giat bikin rumah perahu dari kayu dan bambu, terharu pisan lah. Pokoknya mah, ini peliharaan baru posko yang sangat disayang-sayang, bahkan sampai sekarang, hampir dua tahun keberadaan Semar. Semoga aja, Semar benar-benar awet sampai empat tahun ke depan (sesuai penghitungan depresiasi di lapkeu STAPALA), bahkan lebih. Tapi awet bukan karena ga pernah dipake turun sungai, tapi awet karena kualitas emang terbukti bagus dan perawatan yang optimal.
Pengalaman pengadaan perahu ini ga sepenuhnya manis, karena kerja gue berantakan banget di sini dan terlalu emosional. Juga bikin kecewa beberapa pihak. Bahkan si Komeng sempat meramalkan vakumnya gue di STAPALA setelah perkara perahu ini selesai, eh tapi salah, kenyataannya gue cuma vakum di ORAD setelahnya, hahaha. Ohia, efek lain gue masih aja trauma tiap terima panggilan masuk, masih kebayang tiap malem ditelpon Komeng cuma buat diomelin karena kerjaan ga bener atau ditelpon senior yang komplain dan berujung sedu sedan. Hahaha.
Row, row, row your boat,
Gently down the stream.
Merrily, merrily, merrily, merrily,
Life is but a dream.

what they say