Melukis dengan Cara Baru

littledayout.com

 

Assalamu’alaikum

Mainan udah numpuk, tapi selalu beli mainan baru, dengan alasan anak udah gamau mainin mainan yang lama karena udah bosan. Terkesan familiar?

Anak balita memang sosok yang mudah bosan. Hal ini adalah hal yang wajar menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, Msi. seperti dibahas di sahabatnestle.co.id. Secara positif, menurut Mayke, anak cenderung cepat belajar, maksudnya apabila mereka sudah meng-eksplor sesuatu benda, mereka cenderung akan meninggalkan benda tersebut, karena sudah mendapatkan informasi dari benda itu dan apa yang mereka “cari”.

Oleh karena itu, anak harus terus dirangsang dengan cara memberikan mainan atau cara bermain yang baru agar “keingintahuan” mereka dapat terpenuhi, dan orang tua dituntut agar kreatif dan dapat menjadi teman anak dalam bermain dan belajar. Baca lebih lanjut

Iklan

Kuliah Skincare bersama Liah Yoo

i.ytimg.com

Assalamu’alaikum

Dua bulan terakhir ini saya mulai memperbaiki rutinitas skincare saya, karena emang baru sadar “YA AMPUN UMUR GUE UDAH MAU KEPALA TIGA”. Sungguh sebuah kesadaran diri yang teramat telat hiks :/

Sebelumnya, saya emang rada abai soal skincare. Semenjak kawin dan hamil, saya stop pakai krim-krim dokter dan klinik kecantikan yang sudah menemani saya dari umur 11 tahun (udah jerawatan dari jaman SD, hidup itu keras cuy), dan hanya menggantungkan diri pada produk-produk alaminya @shoppasoap yang khusus acne. Selama ini pun sudah merasa puas dengan kondisi kulit yang sekarang.

Emang masih bruntusan, emang masih jerawatan kalau mau haid, emang kusam dikit, tapi setidaknya ga jerawatan parah kayak duluuu dan ga harus stress gonta-ganti krim dokter lagi. Belum lagi stress tiap abis perawatan, muka jadi bengkak dan kulit ngelupas.

Tapi ternyata skincare regiment saya masih jauh dari kata cukup. Bahkan saya melupakan dua hal penting, yaitu ga pernah pakai sunscreen dan krim mata wkwkwk, hingga akhirnya diingetin oleh sister-sister di sekitaran yang udah jadi skincare expert, malah beberapa yang seumuran saya udah pada pakai produk anti aging.

“KOK GUE MASIH DI SINI-SINI AJA, AHELAH”  Baca lebih lanjut

Fungsi Lain Hula Hoop

static.vecteezy.com

Assalamu’alaikum

Meski sudah menerapkan metode Konmari di rumah, tapi tetep aja saya kadang secara random beli buku dan mainan buat Aya, padahal bukan buku dan mainan yang termasuk “have must item” (saya punya list buku dan mainan apa yang harus dibeli tiap bulannya).

Kayak pas lagi jalan-jalan terus nemu abang-abang mainan yang pakai gerobak, aduh bisa kalap. Secara itu mainan murah-murah banget kan, bawa uang Rp20 ribu aja udah bisa dapat perintilan banyak banget. Sempat saya beli hula hoop warna-warni, yang sebetulnya gatau mau dibuat apa, karena ga bisa makenya juga. Dibeli cuma karena lucu, warnanya macem-macem.

Sampai rumah, Aya seneng sih dapet hula hoop, tapi ga bisa juga makenya haha. Dia malah joget-joget sendiri di dalam lingkaran hula hoop yang ditaruh di lantai.

Eh ternyata, dengan mengandalkan kreativitas, hula hoop ini bisa punya fungsi lain. Alhamdulillah ga mubadzir yaw! Baca lebih lanjut

Kreatif saat Ngajak Aya Sikat Gigi

giphy.com

Assalamu’alaikum

Beberapa hari yang lalu, saya baru menyadari lubang tak kasat mata di gigi depan Aya sudah meningkat statusnya jadi kasat mata 😦

Hal ini tuh kayak jadi tamparan keras buat saya dan suami, karena kami kecolongan. Beberapa kali skip sikat gigi karena Aya menolak atau kami terlalu malas ngajak dan ngebujuk, berakibat risiko gigi aya berlubang makin besar.

Jadilah kami kencangkan ikat kepala dan mendisiplinkan diri untuk ngajak Aya sikat gigi sebelum bobo. Cara yang kami tempuh macem-macem, mengandalkan kreativitas masing-masing. Baca lebih lanjut

Mahkota-Mahkota Kertas

media.npr.org

Assalamu’alaikum

Waktu kami lagi sarapan nasi pecel di dekat rumah (ini enak banget, warga Mutiara Gading Timur, Pondok Timur, Mustika harus coba, ada tiap pagi lokasinya dekat pasar MGT haha) kami lihat serombongan anak TK dan guru-gurunya yang lagi pawai.

Mereka keliling komplek perumahan sambil nyanyi, shalawatan, bawa poster dan balon, dan bagi-bagiin permen. Penampilan mereka eye-catching banget, karena ada yang pakai mahkota, topi dari kertas, sama sash dari kain warna-warni. Aya heboh dong, senang banget. “Mau mahkota juga mah” dia bilang.

Di rumah, kami pun bikin mahkota. Baca lebih lanjut

Satu Lagi, Cara Memperkenalkan Warna

Assalamu’alaikum

“Ini warna apa, Nak?”

“Hmmm kuning. Eh hijau, biru”

“Kuning, Nak”

Umur Aya hampir 2,5 tahun dan dia masih asal-asalan nyebut warna. Padahal, sedari bayi sudah dikenalkan dengan warna dan nama-namanya. Umur satu tahun pun sudah saya ajak melukis dengan cat air. Mainan warna ga usah ditanya, dengan media lego, balok, kertas warna, semua udah dicoba. Tapi belum berhasil nih bikin Aya cesspleng nyebut warna.

Emang sih, sekarang dia sudah hapal semua nama warna, tapi begitu ditunjukkin sebuah benda dan ditanya ini warna apa, itu warna apa, jawabannya kadang cocok, tapi seringnya meleset. Kubingung harus berbuat apa 😦

“Belum kali, tapi sering bener juga kok” kata suami.

“Bisa ah, tadi bisa. Dikasih unjuk benda dia nyebut warnanya,” kata mamah.

“Oh kayak Gege mungkin, ngerti warna apa tapi suka asal-asalan nyebutnya” kata gurunya.

Kalau bukibuk lain khawatir anaknya belum bisa jalan, speech delay, maka saya khawatir kenapa Aya belum bisa bedain warna 😦 terus saya mengandalkan google untuk menjawab keresahan ini.

Lumayan relief setelah nemu artikel yang tepat dan tahu bahwa anak umumnya bisa membedakan warna saat berusia 18 bulan dan kemampuan melihat warna akan meningkat ketika ia berusia 36 bulan. Seakan ada yang bilang “Kamu masih punya waktu buat memperkenalkan warna ke anak, usaha aja lebih keras”.

Ada tantangan, maka harus cari solusi kreatifnya! Baca lebih lanjut

Mengobati Keranjingan Aya Nonton TV

depositphotos_54060545-stock-illustration-family-watching-tv-together

depositphotos.com

Assalamu’alaikum

Drama ga mau mandi yang saya bahas di Solusi ketika Aya Mogok Mandi ternyata belum seberapa jika dibandingkan dengan kehebohan yang kami hadapi saat Aya diminta mengakhiri screen time.

Cerita berawal dari satu minggu yang lalu, saat Aya mendadak demam tinggi. Selama tiga hari sakit dan dua hari pemulihan, memang saya full temani Aya di rumah. Kondisinya yang drop, rewel, dan ngekor kemana pun saya pergi, bikin kami ga bisa beraktivitas banyak. Diajak main lemes, baca buku ga mau, ujung-ujungnya aktivitas yang mudah dan menghibur adalah TV. Saking seringnya kami nonton TV, kami sampai hapal itu urutan film di RTV atau nama-nama karakter di Disney Channel 😦

Padahal sebelumnya, TV dan gadget bukan teman baik Aya. Emang ga dibiasain berlama-lama nonton TV atau main HP sih, dan juga dia tipe anak yang lebih senang mengeksplor sekeliling rumah, atau main keluar rumah sekalian, daripada mantengin layar. Paling maksimal adalah nonton Upin Ipin tiap pagi dan sore. Saya juga pernah bahas ini di Gadget No Gadget (link menyusul).

Tapiiii semua berubah ketika dia kepapar TV selama lima hari. Di pikiranya cuma “nonton, nonton, nonton” males makan, lupa pipis di kamar mandi, dan bisa ngamuk kalau TV dimatikan. Bahkan sampai kebawa mimpi lho, dia sempet ngigo “Kakak mau nonton mamah, jangan dimatiin”. Sedih 😦 Baca lebih lanjut